Blogroll

Kamis, 21 November 2013

TUGAS UTS AGAMA

Latar Belakang
Seiring perkembangan peradaban dan banyaknya kejadian besar yang terjadi pada bangsa ini, maka akan semakin banyak pula tantangan yang muncul seiring dengan perkembangan zaman dan kemunculan kejadian besar tersebut.
Demonstrasi, konflik antara masyarakat, suku maupun etnis, dan kerusuhan senantiasa mewarnai zaman yang terus berkembang ini.Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dalam kehidupan masing-masing pribadi terjadi cobaan-cobaan yang tidak tersadari dan sebagai generasi muda, pengikut Kristus dituntut untuk mencerminkan sifat – sifat segambar dan serupa dengan ALLAH.
Dalam karya tulis ini, pengikut Kristus mengetahui bahwa penyataan gambar dan rupa memiliki arti yang sama, yaitu menjelaskan keunikan, keunggulan manusia yang bernilai sangat tinggi dari pada ciptaan yang lain. Setidaknya kita mendapat beberapa poin tentang pengertian gambar dan rupa Allah.

Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam karya tulis “MANUSIA SEBAGAI GAMBAR DAN RUPA ALLAH” ini adalah :
1.      Bagaimana Hakikat Manusia menurut konteks penciptaan.
2.      Kejatuhan manusia dalam dosa serta apa tujuan manusia diselamatkan dari dosa?
3.      Apa keistimewaan manusia dihadapan Tuhan?
4.      Tindakan manusia sebagai gambar dan rupa Allah

Metode Penulisan
Penulisan karya tulis ini menggunakan metode penulisan kualitatif. Metode penulisan kualitatif adalah metode penulisan karya tulis dengan cara mengumpulkan data dari sumber-sumber yang ada seperti sumber dari internet.
Tujuan Penulisan
Karya tulis ini disusun dengan sistematika yang telah ada dengan tujuan sebagai berikut:
1.      Untuk memenuhi tugas UTS Pendidikan Agama Kristen Protestan yang telah diberikan oleh dosen pembimbing dan pengajar mata kuliah Pendidikan Agama Kristen Protestan Ibu Pdt. Saralinda A. Kisek, S.Si Teol,M.Si
2.      Sebagai bahan pembelajaran dan pedoman bagi mahasiswa-mahasiswi Kristen di Stikom Artha Buana Kupang agar dapat menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah.
3.      Sebagai ilmu pengetahuan bagi seluruh masyarakat dalam kehidupan mereka agar mendapat hidup yang layak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus.

Sistimatika Penulisan

Bab I: Pendahuluan
Bab ini berisi tentang Latar belakang, Rumusan masalah, Metode penulisan, Tujuan penulisan, dan Sistimatika Penulisan.

Bab II : Hakikat Manusia
Berisi tentang penciptaan dan hakikat manusia menurut konteks penciptaan; penciptaan manusia dan tujuan penciptaan manusia.

Bab III : Allah Menyelamatkan Manusia
Berisi tentang manusia dan kejatuhan dalam dosa, janji penyelamatan Allah dalam Perjanjian lama dan Perjanjian baru, serta tujuan Allah menyelamatkan Manusia dari dosa.

Bab IV : Penutup
Berisi tentang keistimewaan Manusia di hadapan Allah dan Panggilan Manusia sebagai gambar dan rupa Allah.


















BAB II
HAKIKAT MANUSIA

1.          Penciptaan Manusia
Pada hari pertama sampai hari kelima Allah menciptakan bumi dan segala isinya (Kej. 1:1-25) lalu pada hari keenam (hari terakhir) Allah menciptakan manusia pertama (Kej. 1:25-26; Kej. 2:7) yaitu Adam. Dalam Kej. 2: 7 dituliskan bagaimana Allah menciptakan Adam “ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidupnya; demikianlah manusia itu hidup”. Allah menciptakan sebuah taman di Eden lalu menempatkan Adam di taman itu. Di taman itu Allah menciptakan pendampin Adam, yaitu Hawa. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang diambil saat Adam tidur. Mereka menjadi sepasang suami-isteri.

2.         Tujuan Penciptaan Manusia
Allah menciptakan bumi dan segala isinya pasti memiliki tujuan. Berikut ini beberapa tujuan diciptakannya manusia:
a.      Supaya ada yang berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, ternak, seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kej. 1:26)
b.      Agar beranak cucu dan bertambah banyak untuk memenuhi bumi dan menaklukkan bumi (Kej. 1:28)

3.         Hakikat Manusia
Pada umumnya hakekat manusia, yaitu:
1.      Manusia memeliki tenaga dalam yang dapat menggerakan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya;
2.      Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial;
3.      Yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya;
4.      Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya;
5.      Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati;
6.      Suatu proses keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas;
7.      Makhkluk Tuhan yang berarti, manusia adalah makhkluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat;
8.      Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

4.         Hakikat Manusia menurut Alkitab
Dalam Alkitab dituliskan beberapa hakikat manusia, yaitu:
1.      Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej. 1:27). Ya, Allah menciptakan manusia pertama itu secitra dengan Allah.
2.      Allah menghembuskan nafas hidup kepada manusia (Kej. 2:7) sehingga manusia memiliki roh. Inilah yang membuat manusia menjadi ciptaan yang paling unik dan superior di dunia.
3.      Allah memberkati manusia (Kej. 1:28). Manusia akan menjadi bangsa besar yang terberkati dengan kemampuan hidup dan berpikir yang luar biasa.
4.      Allah memberikan segala tumbuh-tumbuhan & pohon-pohonan untuk menjadi makanan manusia (Kej. 1:3). Manusia diberikan hak atas segala tumbuh-tumbuhan & pohon-pohonan. Demikian juga halnya dengan binatang yang lain, Allah juga memberikan tumbuh-tumbuhan untuk menjadi makanan mereka (Kej. 1:30).
BAB III
ALLAH MENYELAMATKAN MANUSIA

1. Kejatuhan Manusia Dalam Dosa
Kej 3:1-7 berbicara tentang dosa pertama yang dilakukan manusia yang dalam hal ini adalah Adam dan Hawa. Dan inilah yang kemudian menjadi berita yang paling substansi dalam Alkitab yaitu dosa manusia. Memang ada yang menolak tafsiran dalam Kej 3 ini sebagai tafsiran harfiah dan ada yang menggantinya dengan tafsiran mitologis. Artinya kesejarahannya diragukan, walaupun inti beritanya benar tentang manusia dan kondisi moralitasnya.
Pandangan yang populer saat ini adalah pandangan historis di mana tidak semua dapat ditafsirkan secara harfiah, tetapi peristiwa-peristiwa yang terjadi ada dibatasi ruang dan waktu. Alkitab berbicara tentang fakta kejatuhan yang benar terjadi (Roma 5:12-13), lokasi kejatuhan di taman Eden (Kej 2:10-14), dan Adam disebutkan sebagai nenek moyang pertama dalam keturunan bangsa Yahudi (Kej 4:1; 5:4; 11:27; Luk 3:38). Dapat disimpulkan bahwa kejatuhan adalah peristiwa yang sungguh terjadi dalam sejarah manusia.
Implikasi dari kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah dosa asal adalah fakta sejarah. Dengan menerima ini maka karya penyelamatan Yesus sungguh bermakna. Paulus dalam Rm 5:12 menjabarkan tentang kejatuhan sebagai tema awal yang menjelaskan tentang karya Kristus di kayu salib.
Memang harus diakui ada kesulitan dalam menjelaskan kondisi saat sebelum kejatuhan, karena Alkitab ditulis oleh manusia sesudah kejatuhan, karena kita ingat bahwa kejatuhan menyebabkan ketidaksempurnaan dalam esensi manusia. Begitu pula waktu menjelaskan keadaan di surga dalam kitab Wahyu memakai bahasa simbolis. Tetapi terlepas dari semua itu, bahwa berita tentang dosa harus melibatkan kesadaran diri kita sebagai orang yang sudah jatuh ke dalam dosa. Begitu pula manusia harus melihat dirinya sebagai orang yang memberontak melawan Allah.
2. Penyelamatan TUHAN dalam Perjanjian Lama
Akibat kejatuhan manusia kedalam dosa, mengakibatkan kerusakan yang begitu tragis. Manusia yang semulanya diciptakan serupa dan segambar dengan Allah telah rusak secara “total,” demikianlah Calvin menjelaskan kondisi manusia sejak kejatuhan kedalam dosa. Persekutuan dengan Tuhan yang dinikmati Adam dan Hawa ditaman Eden, terputus akibat dosa yang dilakukannya, bahkan bukan hanya itu, manusia mengalami kematian secara spiritual yang ada akhirnya akan membawa pada “penghukuman kekal” Allah. Dosa memasuki dan mempengaruhi setiap dimensi kehidupan manusia, spiritual, intelektual, fisik dan social.[1]
Semenjak keterpisahan hubungan atau relasi antara Tuhan dengan manusia, manusia bukannya mencari Allah, melainkan segala keinginannya sekarang seutuhnya dikendalikan oleh iblis yang menjadi tuan atas dirinya. Atas kehendak, kemauan dan tujuannya. Manusia menjadi penentang-penentang Allah dengan segala tindakan kejahatannya. Hal ini mematahkan segala prinsip duniawi, yang memegang kepercayaan bahwa manusia pada akhirnya akan semakin baik, yang akan menjadikan dunia juga semakin baik.  Pada akhirnya akan nyata bahwa Alkitab benar, dengan menyatakan bahwa manusia dalam dosa akan semakin jahat bukan semakin baik.
Dengan nature manusia yang telah jatuh kedalam dosa, maka manusia juga tidak memiliki kehendak dan keinginan untuk mencari Tuhan. Allah sendirilah yang berinisiatif mencari manusia dan menyelamatkan manusia. Keselamatan seutuhnya adalah karya Allah. Manusia tidak memiliki peran apapun dalam karya keselamatan Tuhan, bahkan kemampuan yang ia milikipun hanyalah karena anugerah Tuhan saja. Agama-agama lain hanya mencoba menawarkan keselamatan dengan mengandalkan kekuatan dan usaha untuk melakukan kebaikan setinggi mungkin, yang akhirnya hanya akan berakhir pada kesia-siaan belaka.
Makna Keselamatan dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, Alkitab secara radikal dan komprehensif menunjukkan betapa celakanya manusia.[2] Betapa besarnya dan dalamnya manusia telah jatuh kedalam dosa. Maka jawaban Allah bagi penyelamatan manusia dari keadaan kejatuhan manusia, paling sedikit bobotnya harus sama besarnya bahkan melebihi besarnya dosa tersebut. Perjanjian Lama dengan kejujuran dan realismenya menunjukkan akan hakikat dosa dan penyelamatan yang dibutuhkan dan bahwa hanya Allah yang dapat dan mampu menyediakannya.
Kalau kita meneliti dalam Perjanjian Lama, konsep keselamatan memiliki makna yang sangat luas dan dalam-cukup untuk menanggulangi semua akibat dosa dalam alam semesta ciptaan. Penyelamatan itu bersifat:[3]
a.       Pribadi dan social
b.      Rohani dan jasmani
c.       Politis dan ekonomis
d.      Manusiawi dan ekologis
e.       Lokal dan Kosmik
f.       Sekarang dan Esok.
Allah sebagai Juruselamat memenuhi setiap dimensi kehidupan manusia. Keselamatan dalam Perjanjian Lama, mempunyai unsur-unsur baik yang tertuju kepada manusia maupun yang tertuju kepada Allah. Manusia terancam bahaya, musibah  fisik, penganiayaan oleh lawan dan kematian.[4] Keselamatan bukan hanya semata mengenai kehidupan kekal setelah kematian melainkan juga keselamatan secara fisik. Intinya dalam Perjanjian Lama-secara keseluruhan menunjukkan akan betapa dalam dan besarnya kebutuhan dan dosa manusia.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menggambarkan rencana-Nya dan tindakan-Nya bagi penyelamatan manusia melalui dan dalam umat-Nya Israel. Semuanya dimulai dengan pemanggilan Allah atas Abraham. Perjanjian Allah dengan Abraham dengan jelas menggambarkan rencana Allah bagi Keselamatan manusia. Allah memilih secara khusus bangsa Israel untuk menyatakan berkat keselamatan bagi semua bangsa.[5]
Sejarah Keselematan berkembang dalam sepanjang sejarah iman dalam Perjanjian Lama sampai akhirnya mereka berfokus pada tujuan akhir, yaitu pengharapan eskatologikal, Allah penyelamat, sekalipun mereka masih tetap tinggal di bumi dan dihubungkan dengan situasi sesungguhnya yang akan membawa kepada akhir final bersama dengan Raja Penyelamat.[6] Sungguh mengagumkan menyadari bahwa banyak teks dalam perjanjian Lama menubuatkan nubuatan mesianik.
Dalam Perjanjian Lama, bila kita mengamati dengan teliti, maka banyak sekali peristiwa, lembaga atau upacara yang melambangkan akan tipology Kristus antara lain:[16]
1.                  Korban-Korban
Dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Imamat, secara panjang lebar diceritakan tentang korban-korban. Korban karena dosa, korban karena salah, korban makanan, korban pendamaian, dan korban bakaran. Semua korban itu menunjuk kepada pribadi dan pekerjaan Kristus sebagaimana diterangkan dalam Perjanjian Baru. Korban-korban itu menjadikan tuntutan utama tentang penumpahan darah dipenuhi di dalam rencana ilahi bagi keselamatan orang-orang yang terhilang dan bagi orang-orang kudus yang jatuh ke dalam dosa.
2.                  Keimaman dalam Perjanjian Lama
Baik keimaman Harun maupun Melkisedek merupakan gambaran dari keimaman Kristus. Macam keimaman yang mula-mula dalam Perjanjian Lama mengikuti pola patriarch (kepala keluarga). Dalam sistem ini ayah atau kepala keluarga juga memegang peranan sebagai imam. Secara umum bahwa keimaman macam ini juga menunjuk kepada Kristus, tetapi dalam Harun dan Melkisedek ada diberikan pernyataan yang lengkap dan terperinci.
a.       Keimaman Melkisedek menunjukkan akan keunggulan Kristus sebagai imam dibandingkan dengan imam-imam manapun. Keunggulan Kristus dapat dilihat sebagai berikut: kekal, tak punya pengganti, tak punya permulaan dan akhir, serta tidak dapat dipindahkan kepada orang lain (Ibrani 7:24)
b.      Keimaman Kristus dan keimaman Harun, memiliki kesamaan dan perbedaan. Dalam seluk beluknya keimaman Harun memberikan terang ke atas pekerjaan dari Kristus sebagai Imam dan kwalifikasi rohani yang dimiliki Kristus bagi jabatan itu. Perbedaannya antara lain:
Harun melayani di bumi, Kristus di sorga (Ibrani 8:1-5).
Kristus melayani yang sebenarnya, bukan hanya bayangan (Ibrani 8: 5).
 Kristus melayani suatu perjanjian yang baru, bukan perjanjian Musa (Ibrani 8:6).
Kristus dalam mempersembahkan diriNya sebagai korban merupakan korban terakhir bagi dosa yang sekali untuk selama-lamanya, dan tidak perlu mempersembahkan korban setiap hari
3.                  Hari-Hari Besar TUHAN
Paskah merupakan yang pertama dan dalam banyak hal adalah pesta yang paling penting. Paskah ini dirayakan di bulan pertama dan menunjukkan kelepasan dari hukuman di Mesir. Domba yang dikorbankan jelas menggambarkan Kristus.
Pesta kedua, hari raya Roti Tak Beragi, yang dirayakan segera sesudah Paskah. Perayaan ini menggambarkan Kristus sebagai Roti Hidup, berjalan dalam kesucian bagi orang percaya sesudah ditebus, dan persekutuan dengan Kristus. Tidak memakai ragi itu menggambarkan Kristus yang tak berdosa dan persekutuan orang-orang percaya dalam kesucianNya.
Hari Raya Pendamaian, ini menggambarkan secara luas pekerjaan Kristus di kayu salib. Tentu saja korban bagi imam besar dan segala persiapannya tidak perlu bagi Kristus, tetapi korban dan upacara bagi segenap umat itu membayangkan pekerjaan Kristus. Hari raya Pendamaian ini berpusat pada pekerjaan imam besar, sama seperti pekerjaan keselamatan berpusat pada Kristus.
Imam besar yang dipersiapkan dan diberi pakaian menurut aturan tertentu mengerjakan upacara-upacara yang diperlukan bagi kepentingan umat Israel dan segenap rakyat itu. Seluruh upacara kurban ini menggambarkan akan Kristus, yang mati menjadi kurban, untuk menebus umat-Nya.
4.                  Kota-Kota Perlindungan
Dalam hukum Musa dibuat suatu perlindungan bagi mereka yang tidak bersalah telah mengambil nyawa orang lain. Enam kota perlindungan dibangun, tiga di sebelah sisi sungai Yordan dan tiga di sisi lainnya, dan keenam kota itu ditempatkan cli bawah pengawasan orang-orang Lewi (Bilangan 35; Ulangan 19:1-13; Yosua 20). Apabila diputuskan tidak bersalah dalam sesuatu pembunuhan, pihak yang tidak bersalah itu dapat menyelamatkan diri dari pembalasan darah selama ia tinggal di kota perlindungan itu. Bila imam besar meninggal dunia, ia dapat pulang dengan aman ke rumahnya, tetapi tidak sebelumnya.
Kota-kota perlindungan tersebut jelas merupakan gambaran perlindungan di dalam Kristus di mana orang berdosa mendapatkan perlindungan dari hukuman dosa dan dibebaskan oleh kematian Imam Besar yaitu Kristus. Allah sering disebut sebagai tempat perlindungan di dalam Perjanjian Lama (Mazmur 46:2; 142:6; Yesaya 4:6) dan juga di dalam Perjanjian Baru (Roma 8:33 -34; Ibrani 6:18~19). Walaupun Allah senantiasa tempat perlindungan bagi orang-orang kudusNya, tetapi hanyalah oleh kematian Imam Besar, yang digenapkan di dalam Kristus, maka kelepasan sempurna itu diberikan.
3. Janji Penyelamatan Allah Melalui Yesus di Perjanjian Baru
Tokoh utama dalam Injil, dan oleh karenanya dalam janji-janji kepada Abraham adalah Yesus Kristus. Dialah keturunan unggul Abraham. Perjanjian Baru dibuka dengan kata-kata tersebut, “Inilah silsilah Yesus Kristus,Anak Abraham.” (Matius 1:1)
Silsilah tersebut mengikuti keturunan Abraham hingga ke Yesus, dan tema ini ditemukan sepanjang Perjanjian Baru. Paulus menunjukkan dalam suratnya kepada Galatia, bahwa satu keturunan khusus disebut dalam janji, dan dia adalah Yesus: “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan ‘kepada keturunan-keturunannya’ seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: ‘dan kepada keturunanmu’, yaitu Kristus.” (Galatia 3:16)
Yesus diungkapkan sebagai lebih dari seorang keturunan Abraham; dalam surat yang sama dikemukakan bahwa “mereka yang hidup dari iman, merka itulah anak-anak Abraham.” (Galatia 3:7)
Jika kita mengingat penjelasan Alkitab akan iman sebagai keyakinan dan kepatuhan Yesus terhadap Allah (kebalikan dari dosa), jelas sekali bahwa Yesus merupakan keturunan Abraham yang terbesar dari sekian banyak keturunannya. Dia sendiri dari seluruh umat manusia yang dapat berkata sungguh-sungguh kepada musuhnya tanpa takut akan adanya penentangan, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa aku berbuat dosa?” (Yohanes 8:46).  Pesan agung dalam Perjanjian Baru ialah bahwa Yesus melalui imannya telah mengalahkan dosa yang, “oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2 Timotius 1:10).
Di jaman Perjanjian Lama, pesan penyelamatan (Injil atau Gospel) merupakan hak istimewa bangsa Israel. Namun mereka gagal dalam menanggapi tuntutan untuk memegang iman dan ketaatan terhadap Allah. Lalu datanglah Yesus dan menyebarkan para rasulnya untuk menyebarkan berita gembira Injil akan penyelamatan ke seluruh bangsa (Markus 16:15).
Banyak yang melihat ini sebagai perwujudan dari janji Allah bahwa seluruh bangsa akan diberkati melalui Yesus Kristus, keturunan Abraham. Pada kenyataannya, ini hanya merupakan satu langkah (yang besar), dalam rencana Allah untuk memenuhi bumi dengan kemuliaan-Nya. Yesus memahami bahwa hanya sedikit yang akan menerima pesan indah tersebut, karena hal ini menuntut orang untuk melewati pintu iman yang sempit. Sekarang, 2000 tahun kemudian, penyebaran Injil belum membawa berkat ke seluruh bangsa.
Walaupun demikian, jaman yang penuh kemuliaan ini akan datang! Yesus Kristus akan kembali ke bumi untuk membangunkan semua orang yang dianggap patut, termasuk orang-orang yang telah “mengenakan Kristus” dan oleh karena itu menjadi ahli waris dari janji-janji Allah kepada Abraham (Galatia 3: 27-29).
Pada saat itu, berkat terhadap Abraham akan jatuh kepada semua bangsa melalui keturunannya Yesus Kristus (Galatia 3:14). Yesus akan menjadi Raja atas seluruh bumi, dan Kerajaan Allah akan didirikan – di jaman yang penuh berkat seperti yang tidak pernah dialami oleh dunia sebelumnya. Untuk ini, semua orang Kristen diajarkan untuk berdoa terhadap Allah: “ Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas bumi, seperti di dalam Surga.” (Matius 6:10)
Konsep Keselamatan di dalam PB
1. Kelahiran Kembali
Kelahiran kembali bukan merupakan perubahan substansi dari natur manusia (pendapatnya: dosa asal adalah suatu substansi dan substansi itu kemudian diganti dengan substansi lain di dalam kelahiran kembali). Kelahiran kembali juga bukan perubahan salah satu atau lebih sifat-sifat jiwa manusia, seperti emosi manusia, dengan cara menyingkirkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan hal-hal yang bersifat ilahi. Kelahiran kembali itu mempengaruhi hati, yang dipahami dalam pengertian Alkitabiah sebagai pusat dan organ yang mengatur segala keadaan jiwa manusia, yang dari padanya segala hal kehidupan manusia timbul. Hal ini berarti bahwa kelahiran kembali mempengaruhi natur manusia secara keseluruhan. Kelahiran kembali itu juga bukan merupakan perubahan yang sempurna sebagaimana dari padanya, sehingga natur manusia itu tidak lagi mampu berbuat dosa. Kelahiran kembali itu juga tidak berarti prinsip tidak mempengaruhi keseluruhan natur manusia, tetapi yang dimaksud di sini adalah bahwa kelahiran kembali itu tidak menghasilkan perubahan menyeluruh.
Pengertian yang sempit mengenai kelahiran kembali adalah  tindakan Allah di mana prinsip-prinsip hidup baru ditanamkan pada diri manusia, dan sikap hati manusia dikuduskan. Roh Kudus-lah yang mengerjakan kelahiran baru di dalam hidup seseorang. Namun, manusia juga perlu meresponinya.

2. Pertobatan
Kata yang digunakan di dalam PB adalah metanoia, kata itu kemudian dikaitkan dengan kata kerja ginosko, kedua kata itu menunjukkan kesalam dalam hidup manusia. Trench mengemukakan bahwa dalam bahasa Yunani klasik kata itu berarti: 1) mengetahui sesudahnya; pengetahuan yang diperoleh kemudian; 2) berubah pikiran sebagai hasil dari pengetahuan yang diperoleh itu; 3) dalam kaitannya dengan perubahan dalam pikiran ini, berarti menyesali jalan yang semula diambil; 4) suatu langkah untuk masa depan.[22] Ketika kita berpegang bahwa kata itu pertama sekali menunjukkan arti suatu perubahan dalam pikiran, kita juga tidak boleh kehilangan pandangan pada kenyataan bahwa arti katanya tidak terbatas pada kesadaran intelektual dan teoritis belaka, tetapi juga mencakup kesadaran moral dan juga hati nurani. Dalam teks Roma 12:2, Kata metamorphoste juga berbicara mengenai perubahan watak atau kehidupan pribadi orang yang diperbaharui Tuhan. Jadi kata methamorphoste menunjukkan oerubahan tingkah laku dari orang berdosa menjadi seperti Allah. Dalam teks KJV tertulis “are changed into the same image from glory to glory, evan as by Spirit of the Lord.” Perubahan tersebut bukan saja mengubah seseorang menjadi baik tetapi juga memancarkan kemuliaan Tuhan yang sempurna. Pertobatan bukan sekedar perubahan moral baru tetapi arah hidup yang diubah. Arah hidup yang tadinya berorientasi atau tertuju kepada dunia, kemudian berpindah atau berubah ke Kerajaan Sorga.[23]

3. Iman
Dalam PL tidak memakai kata benda untuk iman, selain emunah dalam Habakuk 2:4. Kata ini pada dasarnya berarti “kesetiaan”, Ul 32:4; Mzm 36:5. Tetapi pernyataan dalam habakuk yang kemudian dipakai dalam PB (Rom. 1:17; Gal 3:11; Ibr 10:38) memperlihatkan bahwa nabi habakuk memakai istilah itu untuk menunjukkan tentang iman. Kata yang paling sering dipakai dalam PL untuk “percaya” adalah he’emin, dalam bentuk hiphil dari ‘aman. Jika dipakai dalam bentuk yang bersamaan dengan beth, maka arti yang ditunjukkan adalah suatu rasa percaya diri untuk bersandar pada seseorang atau sesuatu atau kesaksian. Kata kedua yang paling penting adalah batach yang dipakai bersama dengan kata depan beth dan berarti “percaya kepada” atau “bersandar kepada”.[24]  Orang yang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang menaruh harapnya untuk masa sekarang dan masa yang akan datang kepada Dia. Dalam PB kata benda pistis[25] dan kata kerja pisteuo keduanya muncul lebih dari 240 kali, kata sifat pistos 67 kali. Tekanan yang diberikan kepada iman harus dilihat dengan latar belakang penyelamatan Allah di dalam Kristus. Yang menjadi inti PB ialah gagasan Allah mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat dunia. Kristus melakukan karya Keselamatan untuk manusia melalui kematian-Nya yang mendamaikan manusia dengan Allah. Iman ialah sikap yang di dalamnya seseorang melepaskan andalan pada segala usahanya sendiri untuk mendapat keselamatan, entah itu kebijakan, kebaikan susila atau apa saja, kemudian sepenuhnya mengandalkan Tuhan Yesus, dan mengharap hanya dari Dia segala sesuatu yang di maksud oleh “keselamatan”.[26] Setiap orang yang percaya kepada Yesus, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Iman ialah satu-satunya jalan untuk manusia beroleh keselamatan.
4. Pembenaran
Kata kerja “membenarkan” di dalam bahasa Yunani dikaioo yang terbentuk dari akar kata yang sama denga benar (dikaios), dan kebenaran (dikaiosune). Ide yang dinyatakan oleh dikaioo adalah “menyatakan benar”, bukan “membuat atau menjadikan benar”. Dasar ide pembenaran adalah deklarasi Allah, sebagai hakim yang benar, bahwa orang yang percaya kepada Kristus, walaupun berdosa, telah dinyatakan benar, dipandang sebagai orang benar karena di dalam Kristus ia telah memasuki hubungan yang benar dengan Allah.[27] Oleh karena kita telah dibenarkan, maka kita bebas dari hukuman yang seharusnya kita terima. Manusia dibenarkan oleh iman “dia pisteos, ek pisteos atau pistei” (Roma 3:25, 28, 30). Kata depan dia menekankan bahwa iman adalah “alat” yang olehnya kita mendapatkan Kristus dan kebenaran-Nya. Jadi, iman di sini tidak dikatakan sebagai dasar pembenaran, karena jika demikian iman dianggap sebagai jasa manusia.
5. Pendamaiaan
Pendamaian adalah pemulihan orang yang telah dibenarkan ke dalam persekutuan dengan Allah. Dosa telah menjauhkan manusia dari Allah. Dosa telah memutuskan hubungan dan telah menjadi penghalang antara manusia dengan Allah. Seharusnya murka Allah melanda manusia karena keberdosaannya, namun di dalam Rom 5: 10, dikatakan ketika kita menjadi seteru-Nya kita diperdamaikan kepada Allah oleh kematian Anak-Nya. Kematian Kritus melaksanakan tindakan pendamaian  ketika kita berada dalam kondisi berseteru dengan Allah. Kasih Allah yang dinyatakan dalam pendamaian, tidak terfokus pada saat seseorang percaya kepada Kristus dan menemukan bahwa permusuhannya terhadap Allah telah berubah menjadi kasih, melainkan manifestasi kasih Allah terwujud ketika kita masih berdosa di dalam peristiwa kematian Kristus yang historis dan objektif.[28] Hal itu berasal dari Allah dan diberikan bukan akibat usaha manusia atau perbuatan manusia, semata-mata karena pemberian Allah.

6. Penyucian
Kata kerja hagiazo merupakan kata turunan dari hagios, yang sama seperti kata bahasa Ibrani qadosh yang pertama-tama menunjukkan pengertian tentang pemisahan. kata itu dipakai untuk menunjukkan bahwa tindakan Allah yang olehnya Ia, melalui Roh Kudus, mengerjakan kualitas-kualitas kesucian dalam diri manusia (Yoh. 17:17; Kis. 20:32; 26:18). Kata itu juga digunakan untuk pengertian “memisahkan dari yang biasa untuk tujuan kudus”, atau “dikhususkan untuk suatu jabatan tertentu”, Mat 23:17; II Tim. 2:21).
Penyucian adalah tindakan Allah dimana sikap jiwa yang kudus diperkuat, tindakan-tindakan yang kudus makin meningkat dan dengan demikian jalan hidup yang baru diperlihatkan. Struktur lama dari dosa dibuang dan struktur baru dari Allah menempati kedudukan dalam diri orang tersebut.[29]Bersamaan dengan manusia lama yang perlahan-lahan musnah, maka manusia yang baru yang baru itu muncul. Sisi positif dari penyucian ini sering disebut “dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus” (Rom. 6:4,5; Kol 2:12; 3: 1-2). Hidup baru yang mengikuti adalah sebuah hidup bagi Tuhan (Roma 6:11; Gal 2:19).
4.Tujuan pekerjaan penyelamatan Allah
Allah menyatakan dirinya, dalam Alkitab merupakan suatu cara Allah menyatakan kebenaran tentang diri-Nya. Ia mengungkapkan diri-Nya dalam Alkitab bukanlah sebagai cara Allah untuk menjawab rasa penasaran atau keingintahuan manusia akan diri-Nya, melainkan sebagai cara untuk menggenapkan rencana-Nya yang paling utama yaitu keselamatan. Allah bermaksud memulihkan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa kepada hakikatnya yang semula pada saat diciptakan.[19]Dan selanjutnya Ia akan memimpin mereka kepada pemahaman yang sempurna mengenai diri-Nya dan persekutuan yang sempurna yang merupakan titik puncak keselamatan.
Penyataan Firman Tuhan menuntut kepercayaan dan ketaatan terhadap apa yang dinyatakan oleh Tuhan. Penyataan Allah kepada Abraham akan mencapai tujuannya, pertama-tama yang Tuhan tuntut darinya adalah ketaatan kepada Firman Allah yang dinyatakan kepadanya. Demikianlah tuntutan Allah kepada umat-Nya sepanjang sejarah Alkitab, yaitu ketaatan kepada Firman-Nya. Namun pada kenyataan-Nya umat pilihan Allah-pun gagal dalam mentaati perintah-Nya seutuhnya. Maka satu-satunya jalan adalah dengan menyatakan keselamatan dalam diri Mesias, Juruselamat yang sudah dijanjikan semenjak lama.
Karya Keselamatan Allah melalui perantaraan “hamba-Nya,”  akan merealisasikan penyelamatan umat perjanjian-Nya. Dimana umat-Nya akan diam dengan aman di negeri yang akan diberikan-Nya dan dimana Tuhan akan memperlihatkan keadilan-Nya. Semuanya ini berulang-ulangkali diserukan dalam kalimat,”Aku akan menjadi Allah mereka dam mereka akan menjadi umat-Ku.” Seruan ini terdapat beberapa kali dalam kitab Yeremia, Yehezkiel dan Zakaria. Menurut Yeremia hal ini berarti bahwa semua orang akan mengenal Tuhan dari yang kecil sampai yang besar (Yeremia 31:31-34). Hosea berkata-kata tentang umat Allah sebagai istri Tuhan dalam keadilan dan kebenaran (Hos. 2:18). Hal ini merupakan suatu perubahan yang sangat radikal sehingga hanya dapat digambarkan sebagai kebangkitan tulang-tulang kering (Yeh. 37:4-10), pemberian hati yang baru (Yeh. 36:26), yang berarti penempatan Roh Allah sendiri di dalam diri umat-Nya. [20] 

BAB IV
PENUTUP
1.      Alasan Mengapa Manusia Istimewa di Hadapan Allah

Pertama, kita dikasihi oleh Allah. “Karena begitu besar Kasih Allah..” Alasan yang sungguh luar biasa dari pribadi Allah sendiri sehingga menempatkan manusia sebagai ‘yang istimewa’. Keistimewaan itu kita dapat bukan karena perbuatan baik kita, bukan karena harta kita, dan segala apa yang kita miliki. Tapi semua itu kita dapat hanya dengan satu alasan “KASIH”

Kedua, kita ditebus oleh Allah. Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia menjadi ‘tawanan’ iblis. Dan untuk mengembalikan posisi manusia kembali ke hakekatnya sebagai gambar Allah, Allah harus melakukan sesuatu yaitu penebusan. Allah tidak melakukan penebusan dengan menggunakan emas, perak, dll. Tapi Allah melakukan penebusan dengan diri-Nya sendiri  “Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal..” Tunggal artinya satu-satunya bukan salah satunya. Ia harus datang menjadi sama seperti manusia dengan tujuan yang jelas yaitu menebus manusia dari kegelapan.

Ketiga, kita diselamatkan oleh Allah. “Tidak binasa…” dalam Yohanes 10:10 mengatakan bahwa “ Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Panggilan Allah dalam hidup kita bukan untuk binasa melainkan kehidupan. Kita diselamatkan dari kusa iblis, dari segala ikatan dosa masa lalu, dari segala kutuk karena Allah sangat memandang kita berharga dimata-Nya.

Keempat, kita diubah oleh Allah. Dahulu kita adalah hamba dosa, tetapi sekarang kita menjadi hamba kebenaran. Status kita diubahkan oleh Allah sebagai Imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.(I Ptr. 2:9) Status ini bukan bersifat sementara, tetapi bersifat kekekalan “Melainkan beroleh hidup yang kekal…”

Saudara yang terkasih, kiranya keempat prinsip diatas dapat menolong kita untuk memasuki bulan natal ini bukan sekedar sebagai pesta tahunan. Akan tetapi melalui natal ini, kita kembali diingatkan bahwa sesungguhya kita istimewa dihadapan Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan Allah kepada kita. 
2.      Panggilan Manusia Sebagai Gambar dan Rupa Allah
Gambar Allah menunjuk pada bagian non-material dari manusia. Hal ini membedakan manusia dari binatang dan memampukan manusia menjalankan “kekuasaan” sebagaimana direncanakan Allah (Kejadian 1:28), dan memampukan manusia berkomunikasi dengan PenciptaNya. Keserupaan ini adalah dalam halmental, moral dan sosial.

Secara mental, manusia diciptakan sebagai makhluk yang rasional dan berkehendak – dengan kata lain, manusia dapat menggunakan pikirannya dan dapat memilih. Ini adalah refleksi dari akal budi dan kebebasan Tuhan. Setiap kali seseorang menciptakan mesin, menulis sebuah buku, melukis pemandangan, menikmati simponi, menjumlahkan hitungan, atau menamai binatang peliharaan, dia memproklamirkan fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.

Secara moral, manusia diciptakan dalam kebenaran dan kepolosan yang sempurna, suatu refleksi dari kesucian Tuhan. Tuhan melihat semua yang diciptakanNya (termasuk manusia) dan mengatakan, “sangat baik” (Kejadian 1:31). Hati nurani kita atau “kompas moral” adalah sisa dari keadaan yang asli itu. Ketika seseorang menulis hukum, mundur dari kejahatan, memuji kelakuan baik, atau merasa bersalah, orang itu meneguhkan fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.

Secara sosial, manusia diciptakan untuk bersekutu. Hal ini mencerminkan ketritunggalan Allah dan kasihNya. Di taman Eden, relasi manusia yang terutama adalah dengan Tuhan (Kejadian 3:8 menyiratkan persekutuan dengan Tuhan), dan Tuhan menciptakan perempuan pertama karena "tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Setiap kali seseorang menikah, berteman, memeluk anak kecil, mengikuti kebaktian, dia menyatakan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.






Daftar Pustaka
http://www.bersamadia.com/2010/06/arti-segambar-dan-serupa-allah.html
http://mariohutahaean.blogspot.com/2012/11/makalah-mata-kuliah-pendidikan-agama.html
http://carelinks.net/doc/bbintro-id/5
http://andrewsarambu.blogspot.com/2011/04/keselamatan.html
http://andreasgpak.blogspot.com/2012/01/materi-pak-kelas-vii-semester-2.html
http://httpcharis.blogspot.com/2012/10/konsep-teologis-keselamatan-dalam.html
http://danielronda.com/index.php/artikelmateri-kuliah/86-pengajaran-tentan-manusia-dan-dosa-sebagian-materi-kuliah-teologi-sistematika.html

http://www.mezbahpetra.com/2010/12/menjadi-umat-yang-istimewa.html

0 komentar:

Posting Komentar

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Cari Blog Ini