Latar Belakang
Seiring perkembangan peradaban dan banyaknya kejadian
besar yang terjadi pada bangsa ini, maka akan semakin banyak pula tantangan
yang muncul seiring dengan perkembangan zaman dan kemunculan kejadian besar
tersebut.
Demonstrasi, konflik antara masyarakat, suku maupun
etnis, dan kerusuhan senantiasa mewarnai zaman yang terus berkembang ini.Oleh karena
itu, tidaklah mengherankan jika dalam kehidupan masing-masing pribadi terjadi
cobaan-cobaan yang tidak tersadari dan sebagai generasi muda, pengikut Kristus
dituntut untuk mencerminkan sifat – sifat segambar
dan serupa dengan ALLAH.
Dalam karya tulis ini, pengikut Kristus mengetahui bahwa penyataan gambar dan rupa memiliki
arti yang sama, yaitu menjelaskan keunikan, keunggulan manusia yang bernilai
sangat tinggi dari pada ciptaan yang lain. Setidaknya kita mendapat beberapa
poin tentang pengertian gambar dan rupa Allah.
Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam
karya tulis “MANUSIA SEBAGAI GAMBAR DAN RUPA ALLAH” ini adalah :
1. Bagaimana Hakikat Manusia menurut
konteks penciptaan.
2. Kejatuhan manusia dalam dosa serta
apa tujuan manusia diselamatkan dari dosa?
3. Apa keistimewaan manusia dihadapan
Tuhan?
4. Tindakan manusia sebagai gambar
dan rupa Allah
Metode Penulisan
Penulisan
karya tulis ini menggunakan metode penulisan kualitatif. Metode penulisan
kualitatif adalah metode penulisan karya tulis dengan cara mengumpulkan data
dari sumber-sumber yang ada seperti sumber dari internet.
Tujuan Penulisan
Karya
tulis ini disusun dengan sistematika yang telah ada dengan tujuan sebagai
berikut:
1. Untuk memenuhi
tugas UTS Pendidikan Agama Kristen Protestan
yang telah diberikan oleh dosen pembimbing
dan pengajar mata kuliah Pendidikan Agama Kristen Protestan Ibu Pdt. Saralinda A. Kisek, S.Si Teol,M.Si
2. Sebagai bahan
pembelajaran dan pedoman bagi mahasiswa-mahasiswi Kristen di Stikom Artha Buana Kupang agar dapat menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah.
3. Sebagai ilmu
pengetahuan bagi seluruh masyarakat dalam kehidupan mereka agar mendapat hidup
yang layak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus.
Sistimatika Penulisan
Bab
I: Pendahuluan
Bab ini berisi tentang Latar
belakang, Rumusan masalah, Metode penulisan, Tujuan penulisan, dan Sistimatika
Penulisan.
Bab II : Hakikat Manusia
Berisi tentang penciptaan dan
hakikat manusia menurut konteks penciptaan; penciptaan manusia dan tujuan
penciptaan manusia.
Bab III : Allah Menyelamatkan Manusia
Berisi tentang manusia dan
kejatuhan dalam dosa, janji penyelamatan Allah dalam Perjanjian lama dan
Perjanjian baru, serta tujuan Allah menyelamatkan Manusia dari dosa.
Bab IV : Penutup
Berisi tentang keistimewaan
Manusia di hadapan Allah dan Panggilan Manusia sebagai gambar dan rupa Allah.
BAB
II
HAKIKAT
MANUSIA
1.
Penciptaan Manusia
Pada
hari pertama sampai hari kelima Allah menciptakan bumi dan segala isinya (Kej.
1:1-25) lalu pada hari keenam (hari terakhir) Allah menciptakan manusia pertama
(Kej. 1:25-26; Kej. 2:7) yaitu Adam. Dalam Kej. 2: 7 dituliskan bagaimana Allah
menciptakan Adam “ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu
tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidupnya; demikianlah manusia itu
hidup”. Allah menciptakan sebuah taman di Eden lalu menempatkan Adam di taman
itu. Di taman itu Allah menciptakan pendampin Adam, yaitu Hawa. Hawa diciptakan
dari tulang rusuk Adam yang diambil saat Adam tidur. Mereka menjadi sepasang
suami-isteri.
2.
Tujuan Penciptaan Manusia
Allah menciptakan bumi dan segala
isinya pasti memiliki tujuan. Berikut ini beberapa tujuan diciptakannya
manusia:
a. Supaya ada yang berkuasa atas ikan-ikan di laut,
burung-burung di udara, ternak, seluruh bumi, dan atas segala binatang melata
yang merayap di bumi (Kej. 1:26)
b. Agar beranak cucu dan bertambah banyak untuk memenuhi bumi
dan menaklukkan bumi (Kej. 1:28)
3.
Hakikat Manusia
Pada
umumnya hakekat manusia, yaitu:
1. Manusia memeliki tenaga dalam yang dapat menggerakan
hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya;
2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab
atas tingkah laku intelektual dan sosial;
3. Yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampu
mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya;
4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus
berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya;
5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam
usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia
lebih baik untuk ditempati;
6. Suatu proses keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya
merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas;
7. Makhkluk Tuhan yang berarti, manusia adalah makhkluk yang
mengandung kemungkinan baik dan jahat;
8. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Terutama
lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat
kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
4.
Hakikat Manusia menurut Alkitab
Dalam
Alkitab dituliskan beberapa hakikat manusia, yaitu:
1. Allah menciptakan manusia menurut
gambar-Nya (Kej. 1:27). Ya, Allah menciptakan
manusia pertama itu secitra dengan Allah.
2. Allah menghembuskan nafas hidup kepada manusia (Kej. 2:7)
sehingga manusia memiliki roh. Inilah yang membuat manusia menjadi ciptaan yang
paling unik dan superior di dunia.
3. Allah memberkati manusia (Kej. 1:28). Manusia akan menjadi
bangsa besar yang terberkati dengan kemampuan hidup dan berpikir yang luar
biasa.
4. Allah memberikan segala tumbuh-tumbuhan & pohon-pohonan
untuk menjadi makanan manusia (Kej. 1:3). Manusia diberikan hak atas segala
tumbuh-tumbuhan & pohon-pohonan. Demikian juga halnya dengan binatang yang
lain, Allah juga memberikan tumbuh-tumbuhan untuk menjadi makanan mereka (Kej.
1:30).
BAB III
ALLAH MENYELAMATKAN MANUSIA
1.
Kejatuhan Manusia Dalam Dosa
Kej 3:1-7 berbicara
tentang dosa pertama yang dilakukan manusia yang dalam hal ini adalah Adam dan
Hawa. Dan inilah yang kemudian menjadi berita yang paling substansi dalam
Alkitab yaitu dosa manusia. Memang ada yang menolak tafsiran dalam Kej 3 ini
sebagai tafsiran harfiah dan ada yang menggantinya dengan tafsiran mitologis.
Artinya kesejarahannya diragukan, walaupun inti beritanya benar tentang manusia
dan kondisi moralitasnya.
Pandangan yang populer
saat ini adalah pandangan historis di mana tidak semua dapat ditafsirkan secara
harfiah, tetapi peristiwa-peristiwa yang terjadi ada dibatasi ruang dan waktu.
Alkitab berbicara tentang fakta kejatuhan yang benar terjadi (Roma 5:12-13),
lokasi kejatuhan di taman Eden (Kej 2:10-14), dan Adam disebutkan sebagai nenek
moyang pertama dalam keturunan bangsa Yahudi (Kej 4:1; 5:4; 11:27; Luk 3:38).
Dapat disimpulkan bahwa kejatuhan adalah peristiwa yang sungguh terjadi dalam
sejarah manusia.
Implikasi dari
kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah dosa asal adalah fakta sejarah. Dengan
menerima ini maka karya penyelamatan Yesus sungguh bermakna. Paulus dalam Rm
5:12 menjabarkan tentang kejatuhan sebagai tema awal yang menjelaskan tentang
karya Kristus di kayu salib.
Memang harus diakui ada
kesulitan dalam menjelaskan kondisi saat sebelum kejatuhan, karena Alkitab
ditulis oleh manusia sesudah kejatuhan, karena kita ingat bahwa kejatuhan
menyebabkan ketidaksempurnaan dalam esensi manusia. Begitu pula waktu menjelaskan
keadaan di surga dalam kitab Wahyu memakai bahasa simbolis. Tetapi terlepas
dari semua itu, bahwa berita tentang dosa harus melibatkan kesadaran diri kita
sebagai orang yang sudah jatuh ke dalam dosa. Begitu pula manusia harus melihat
dirinya sebagai orang yang memberontak melawan Allah.
2.
Penyelamatan TUHAN dalam Perjanjian Lama
Akibat kejatuhan
manusia kedalam dosa, mengakibatkan kerusakan yang begitu tragis. Manusia yang
semulanya diciptakan serupa dan segambar dengan Allah telah rusak secara
“total,” demikianlah Calvin menjelaskan
kondisi manusia sejak kejatuhan kedalam dosa. Persekutuan dengan Tuhan yang
dinikmati Adam dan Hawa ditaman Eden, terputus
akibat dosa yang dilakukannya, bahkan bukan hanya itu, manusia mengalami
kematian secara spiritual yang ada akhirnya akan membawa pada “penghukuman
kekal” Allah. Dosa memasuki dan mempengaruhi setiap dimensi kehidupan manusia,
spiritual, intelektual, fisik dan social.[1]
Semenjak keterpisahan
hubungan atau relasi antara Tuhan dengan manusia, manusia bukannya mencari
Allah, melainkan segala keinginannya sekarang seutuhnya dikendalikan oleh iblis
yang menjadi tuan atas dirinya.
Atas kehendak, kemauan dan tujuannya. Manusia menjadi penentang-penentang Allah
dengan segala tindakan kejahatannya. Hal ini mematahkan segala prinsip duniawi,
yang memegang kepercayaan bahwa manusia pada akhirnya akan semakin baik, yang
akan menjadikan dunia juga semakin baik. Pada akhirnya akan nyata
bahwa Alkitab benar, dengan menyatakan bahwa manusia dalam dosa akan semakin
jahat bukan semakin baik.
Dengan nature manusia yang telah jatuh kedalam dosa, maka
manusia juga tidak memiliki kehendak dan keinginan untuk mencari Tuhan. Allah
sendirilah yang berinisiatif mencari manusia dan menyelamatkan manusia.
Keselamatan seutuhnya adalah karya Allah. Manusia tidak memiliki peran apapun
dalam karya keselamatan Tuhan, bahkan kemampuan yang ia milikipun hanyalah
karena anugerah Tuhan saja. Agama-agama lain hanya mencoba menawarkan
keselamatan dengan mengandalkan kekuatan dan usaha untuk melakukan kebaikan
setinggi mungkin, yang akhirnya hanya akan berakhir pada kesia-siaan belaka.
Makna
Keselamatan dalam Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama,
Alkitab secara radikal dan komprehensif menunjukkan betapa celakanya
manusia.[2] Betapa besarnya dan dalamnya manusia
telah jatuh kedalam dosa. Maka jawaban Allah bagi penyelamatan manusia dari
keadaan kejatuhan manusia, paling sedikit bobotnya harus sama besarnya bahkan
melebihi besarnya dosa tersebut. Perjanjian Lama dengan kejujuran dan
realismenya menunjukkan akan hakikat dosa dan penyelamatan yang dibutuhkan dan
bahwa hanya Allah yang dapat dan mampu menyediakannya.
Kalau kita meneliti
dalam Perjanjian Lama, konsep keselamatan memiliki makna yang sangat luas dan
dalam-cukup untuk menanggulangi semua akibat dosa dalam alam semesta ciptaan.
Penyelamatan itu bersifat:[3]
a. Pribadi
dan social
b. Rohani dan
jasmani
c. Politis
dan ekonomis
d. Manusiawi dan
ekologis
e. Lokal
dan Kosmik
f. Sekarang
dan Esok.
Allah sebagai
Juruselamat memenuhi setiap dimensi kehidupan manusia. Keselamatan dalam
Perjanjian Lama, mempunyai unsur-unsur baik yang tertuju kepada manusia maupun
yang tertuju kepada Allah. Manusia terancam bahaya, musibah fisik,
penganiayaan oleh lawan dan kematian.[4] Keselamatan bukan hanya semata
mengenai kehidupan kekal setelah kematian melainkan juga keselamatan secara
fisik. Intinya dalam Perjanjian Lama-secara keseluruhan menunjukkan akan betapa
dalam dan besarnya kebutuhan dan dosa manusia.
Dalam Perjanjian Lama,
Allah menggambarkan rencana-Nya dan tindakan-Nya bagi penyelamatan manusia
melalui dan dalam umat-Nya Israel. Semuanya dimulai dengan pemanggilan Allah
atas Abraham. Perjanjian Allah dengan Abraham dengan jelas menggambarkan
rencana Allah bagi Keselamatan manusia. Allah memilih secara khusus bangsa
Israel untuk menyatakan berkat keselamatan bagi semua bangsa.[5]
Sejarah Keselematan
berkembang dalam sepanjang sejarah iman dalam Perjanjian Lama sampai akhirnya
mereka berfokus pada tujuan akhir, yaitu pengharapan eskatologikal, Allah
penyelamat, sekalipun mereka masih tetap tinggal di bumi dan dihubungkan dengan
situasi sesungguhnya yang akan membawa kepada akhir final bersama dengan Raja
Penyelamat.[6] Sungguh mengagumkan menyadari bahwa
banyak teks dalam perjanjian Lama menubuatkan nubuatan mesianik.
Dalam Perjanjian Lama,
bila kita mengamati dengan teliti, maka banyak sekali peristiwa, lembaga atau
upacara yang melambangkan akan tipology Kristus antara lain:[16]
1. Korban-Korban
Dalam Perjanjian Lama,
khususnya dalam Imamat, secara panjang lebar diceritakan tentang
korban-korban. Korban karena dosa, korban karena salah, korban makanan,
korban pendamaian, dan korban bakaran. Semua korban itu menunjuk kepada pribadi
dan pekerjaan Kristus sebagaimana diterangkan dalam Perjanjian Baru.
Korban-korban itu menjadikan tuntutan utama tentang penumpahan darah dipenuhi
di dalam rencana ilahi bagi keselamatan orang-orang yang terhilang dan bagi
orang-orang kudus yang jatuh ke dalam dosa.
2. Keimaman
dalam Perjanjian Lama
Baik keimaman Harun
maupun Melkisedek merupakan gambaran dari keimaman Kristus. Macam keimaman yang
mula-mula dalam Perjanjian Lama mengikuti pola patriarch (kepala keluarga).
Dalam sistem ini ayah atau kepala keluarga juga memegang peranan sebagai imam.
Secara umum bahwa keimaman macam ini juga menunjuk kepada Kristus, tetapi dalam
Harun dan Melkisedek ada diberikan pernyataan yang lengkap dan terperinci.
a. Keimaman
Melkisedek menunjukkan akan keunggulan Kristus sebagai imam dibandingkan dengan
imam-imam manapun. Keunggulan Kristus dapat dilihat sebagai berikut: kekal, tak
punya pengganti, tak punya permulaan dan akhir, serta tidak dapat dipindahkan
kepada orang lain (Ibrani 7:24)
b. Keimaman
Kristus dan keimaman Harun, memiliki kesamaan dan perbedaan. Dalam seluk
beluknya keimaman Harun memberikan terang ke atas pekerjaan dari Kristus
sebagai Imam dan kwalifikasi rohani yang dimiliki Kristus bagi jabatan itu.
Perbedaannya antara lain:
Harun melayani di bumi,
Kristus di sorga (Ibrani 8:1-5).
Kristus melayani yang
sebenarnya, bukan hanya bayangan (Ibrani 8: 5).
Kristus melayani
suatu perjanjian yang baru, bukan perjanjian Musa (Ibrani 8:6).
Kristus dalam
mempersembahkan diriNya sebagai korban merupakan korban terakhir bagi dosa yang
sekali untuk selama-lamanya, dan tidak perlu mempersembahkan korban setiap hari
3. Hari-Hari
Besar TUHAN
Paskah merupakan yang
pertama dan dalam banyak hal adalah pesta yang paling penting. Paskah ini
dirayakan di bulan pertama dan menunjukkan kelepasan dari hukuman di Mesir.
Domba yang dikorbankan jelas menggambarkan Kristus.
Pesta kedua, hari raya
Roti Tak Beragi, yang dirayakan segera sesudah Paskah. Perayaan ini
menggambarkan Kristus sebagai Roti Hidup, berjalan dalam kesucian bagi orang
percaya sesudah ditebus, dan persekutuan dengan Kristus. Tidak memakai ragi itu
menggambarkan Kristus yang tak berdosa dan persekutuan orang-orang percaya
dalam kesucianNya.
Hari Raya Pendamaian,
ini menggambarkan secara luas pekerjaan Kristus di kayu salib. Tentu saja
korban bagi imam besar dan segala persiapannya tidak perlu bagi Kristus, tetapi
korban dan upacara bagi segenap umat itu membayangkan pekerjaan Kristus. Hari
raya Pendamaian ini berpusat pada pekerjaan imam besar, sama seperti pekerjaan
keselamatan berpusat pada Kristus.
Imam besar yang
dipersiapkan dan diberi pakaian menurut aturan tertentu mengerjakan
upacara-upacara yang diperlukan bagi kepentingan umat Israel dan segenap rakyat
itu. Seluruh upacara kurban ini menggambarkan akan Kristus, yang mati menjadi
kurban, untuk menebus umat-Nya.
4. Kota-Kota
Perlindungan
Dalam hukum Musa dibuat
suatu perlindungan bagi mereka yang tidak bersalah telah mengambil nyawa orang
lain. Enam kota perlindungan dibangun, tiga di sebelah sisi sungai Yordan dan
tiga di sisi lainnya, dan keenam kota itu ditempatkan cli bawah pengawasan
orang-orang Lewi (Bilangan 35; Ulangan 19:1-13; Yosua 20). Apabila diputuskan
tidak bersalah dalam sesuatu pembunuhan, pihak yang tidak bersalah itu dapat
menyelamatkan diri dari pembalasan darah selama ia tinggal di kota perlindungan
itu. Bila imam besar meninggal dunia, ia dapat pulang dengan aman ke rumahnya,
tetapi tidak sebelumnya.
Kota-kota perlindungan
tersebut jelas merupakan gambaran perlindungan di dalam Kristus di mana orang
berdosa mendapatkan perlindungan dari hukuman dosa dan dibebaskan oleh kematian
Imam Besar yaitu Kristus. Allah sering disebut sebagai tempat perlindungan di
dalam Perjanjian Lama (Mazmur 46:2; 142:6; Yesaya 4:6) dan juga di dalam
Perjanjian Baru (Roma 8:33 -34; Ibrani 6:18~19). Walaupun Allah senantiasa tempat
perlindungan bagi orang-orang kudusNya, tetapi hanyalah oleh kematian Imam
Besar, yang digenapkan di dalam Kristus, maka kelepasan sempurna itu diberikan.
3.
Janji Penyelamatan Allah Melalui Yesus di Perjanjian Baru
Tokoh utama dalam
Injil, dan oleh karenanya dalam janji-janji kepada Abraham adalah Yesus
Kristus. Dialah keturunan unggul Abraham. Perjanjian Baru dibuka dengan
kata-kata tersebut, “Inilah silsilah Yesus Kristus,Anak Abraham.” (Matius 1:1)
Silsilah tersebut
mengikuti keturunan Abraham hingga ke Yesus, dan tema ini ditemukan sepanjang
Perjanjian Baru. Paulus menunjukkan dalam suratnya kepada Galatia, bahwa satu
keturunan khusus disebut dalam janji, dan dia adalah Yesus: “Adapun kepada
Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan
‘kepada keturunan-keturunannya’ seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya
satu orang: ‘dan kepada keturunanmu’, yaitu Kristus.” (Galatia 3:16)
Yesus diungkapkan
sebagai lebih dari seorang keturunan Abraham; dalam surat yang sama dikemukakan
bahwa “mereka yang hidup dari iman, merka itulah anak-anak Abraham.” (Galatia
3:7)
Jika kita mengingat
penjelasan Alkitab akan iman sebagai keyakinan dan kepatuhan Yesus terhadap
Allah (kebalikan dari dosa), jelas sekali bahwa Yesus merupakan keturunan
Abraham yang terbesar dari sekian banyak keturunannya. Dia sendiri dari seluruh
umat manusia yang dapat berkata sungguh-sungguh kepada musuhnya tanpa takut
akan adanya penentangan, “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa aku
berbuat dosa?” (Yohanes 8:46). Pesan agung dalam Perjanjian Baru ialah
bahwa Yesus melalui imannya telah mengalahkan dosa yang, “oleh Injil telah
mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (2
Timotius 1:10).
Di jaman Perjanjian
Lama, pesan penyelamatan (Injil atau Gospel) merupakan hak istimewa bangsa
Israel. Namun mereka gagal dalam menanggapi tuntutan untuk memegang iman dan
ketaatan terhadap Allah. Lalu datanglah Yesus dan menyebarkan para rasulnya
untuk menyebarkan berita gembira Injil akan penyelamatan ke seluruh bangsa
(Markus 16:15).
Banyak yang melihat ini
sebagai perwujudan dari janji Allah bahwa seluruh bangsa akan diberkati melalui
Yesus Kristus, keturunan Abraham. Pada kenyataannya, ini hanya merupakan satu
langkah (yang besar), dalam rencana Allah untuk memenuhi bumi dengan
kemuliaan-Nya. Yesus memahami bahwa hanya sedikit yang akan menerima pesan
indah tersebut, karena hal ini menuntut orang untuk melewati pintu iman yang
sempit. Sekarang, 2000 tahun kemudian, penyebaran Injil belum membawa berkat ke
seluruh bangsa.
Walaupun demikian,
jaman yang penuh kemuliaan ini akan datang! Yesus Kristus akan kembali ke bumi
untuk membangunkan semua orang yang dianggap patut, termasuk orang-orang yang
telah “mengenakan Kristus” dan oleh karena itu menjadi ahli waris dari
janji-janji Allah kepada Abraham (Galatia 3: 27-29).
Pada saat itu, berkat
terhadap Abraham akan jatuh kepada semua bangsa melalui keturunannya Yesus
Kristus (Galatia 3:14). Yesus akan menjadi Raja atas seluruh bumi, dan Kerajaan
Allah akan didirikan – di jaman yang penuh berkat seperti yang tidak pernah
dialami oleh dunia sebelumnya. Untuk ini, semua orang Kristen diajarkan untuk
berdoa terhadap Allah: “ Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas
bumi, seperti di dalam Surga.” (Matius 6:10)
Konsep Keselamatan di dalam PB
1. Kelahiran Kembali
Kelahiran kembali bukan merupakan perubahan substansi dari natur manusia
(pendapatnya: dosa asal adalah suatu substansi dan substansi itu kemudian
diganti dengan substansi lain di dalam kelahiran kembali). Kelahiran kembali
juga bukan perubahan salah satu atau lebih sifat-sifat jiwa manusia, seperti
emosi manusia, dengan cara menyingkirkan segala sesuatu yang tidak sesuai
dengan hal-hal yang bersifat ilahi. Kelahiran kembali itu mempengaruhi hati,
yang dipahami dalam pengertian Alkitabiah sebagai pusat dan organ yang mengatur
segala keadaan jiwa manusia, yang dari padanya segala hal kehidupan manusia
timbul. Hal ini berarti bahwa kelahiran kembali mempengaruhi natur manusia
secara keseluruhan. Kelahiran kembali itu juga bukan merupakan perubahan yang
sempurna sebagaimana dari padanya, sehingga natur manusia itu tidak lagi mampu
berbuat dosa. Kelahiran kembali itu juga tidak berarti prinsip tidak
mempengaruhi keseluruhan natur manusia, tetapi yang dimaksud di sini adalah
bahwa kelahiran kembali itu tidak menghasilkan perubahan menyeluruh.
Pengertian yang sempit mengenai kelahiran kembali
adalah tindakan Allah di mana prinsip-prinsip hidup baru ditanamkan
pada diri manusia, dan sikap hati manusia dikuduskan. Roh Kudus-lah yang
mengerjakan kelahiran baru di dalam hidup seseorang. Namun, manusia juga perlu
meresponinya.
2. Pertobatan
Kata yang digunakan di dalam PB adalah metanoia, kata itu
kemudian dikaitkan dengan kata kerja ginosko, kedua kata itu menunjukkan
kesalam dalam hidup manusia. Trench mengemukakan bahwa dalam bahasa Yunani
klasik kata itu berarti: 1) mengetahui sesudahnya; pengetahuan yang diperoleh
kemudian; 2) berubah pikiran sebagai hasil dari pengetahuan yang diperoleh itu;
3) dalam kaitannya dengan perubahan dalam pikiran ini, berarti menyesali jalan
yang semula diambil; 4) suatu langkah untuk masa depan.[22] Ketika
kita berpegang bahwa kata itu pertama sekali menunjukkan arti suatu perubahan
dalam pikiran, kita juga tidak boleh kehilangan pandangan pada kenyataan bahwa
arti katanya tidak terbatas pada kesadaran intelektual dan teoritis belaka,
tetapi juga mencakup kesadaran moral dan juga hati nurani. Dalam teks Roma
12:2, Kata metamorphoste juga berbicara mengenai perubahan watak atau kehidupan
pribadi orang yang diperbaharui Tuhan. Jadi kata methamorphoste menunjukkan
oerubahan tingkah laku dari orang berdosa menjadi seperti Allah. Dalam teks KJV
tertulis “are changed into the same image from glory to glory, evan as by
Spirit of the Lord.” Perubahan tersebut bukan saja mengubah seseorang menjadi
baik tetapi juga memancarkan kemuliaan Tuhan yang sempurna. Pertobatan bukan
sekedar perubahan moral baru tetapi arah hidup yang diubah. Arah hidup yang
tadinya berorientasi atau tertuju kepada dunia, kemudian berpindah atau berubah
ke Kerajaan Sorga.[23]
3. Iman
Dalam PL tidak memakai kata benda untuk iman, selain emunah dalam
Habakuk 2:4. Kata ini pada dasarnya berarti “kesetiaan”, Ul 32:4; Mzm 36:5.
Tetapi pernyataan dalam habakuk yang kemudian dipakai dalam PB (Rom. 1:17; Gal
3:11; Ibr 10:38) memperlihatkan bahwa nabi habakuk memakai istilah itu untuk
menunjukkan tentang iman. Kata yang paling sering dipakai dalam PL untuk
“percaya” adalah he’emin, dalam bentuk hiphil dari ‘aman.
Jika dipakai dalam bentuk yang bersamaan dengan beth, maka arti
yang ditunjukkan adalah suatu rasa percaya diri untuk bersandar pada seseorang
atau sesuatu atau kesaksian. Kata kedua yang paling penting adalah batach yang
dipakai bersama dengan kata depan beth dan berarti “percaya
kepada” atau “bersandar kepada”.[24] Orang
yang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang menaruh harapnya untuk masa
sekarang dan masa yang akan datang kepada Dia. Dalam PB kata benda pistis[25] dan
kata kerja pisteuo keduanya muncul lebih dari 240 kali, kata sifat pistos 67
kali. Tekanan yang diberikan kepada iman harus dilihat dengan latar belakang
penyelamatan Allah di dalam Kristus. Yang menjadi inti PB ialah gagasan Allah
mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat dunia. Kristus melakukan karya
Keselamatan untuk manusia melalui kematian-Nya yang mendamaikan manusia dengan
Allah. Iman ialah sikap yang di dalamnya seseorang melepaskan andalan pada
segala usahanya sendiri untuk mendapat keselamatan, entah itu kebijakan,
kebaikan susila atau apa saja, kemudian sepenuhnya mengandalkan Tuhan Yesus,
dan mengharap hanya dari Dia segala sesuatu yang di maksud oleh “keselamatan”.[26] Setiap
orang yang percaya kepada Yesus, tidak binasa melainkan beroleh hidup yang
kekal (Yoh 3:16). Iman ialah satu-satunya jalan untuk manusia beroleh
keselamatan.
4. Pembenaran
Kata kerja “membenarkan” di dalam bahasa Yunani dikaioo yang
terbentuk dari akar kata yang sama denga benar (dikaios), dan kebenaran
(dikaiosune). Ide yang dinyatakan oleh dikaioo adalah “menyatakan benar”, bukan
“membuat atau menjadikan benar”. Dasar ide pembenaran adalah deklarasi Allah,
sebagai hakim yang benar, bahwa orang yang percaya kepada Kristus, walaupun
berdosa, telah dinyatakan benar, dipandang sebagai orang benar karena di dalam
Kristus ia telah memasuki hubungan yang benar dengan Allah.[27] Oleh
karena kita telah dibenarkan, maka kita bebas dari hukuman yang seharusnya kita
terima. Manusia dibenarkan oleh iman “dia pisteos, ek pisteos atau pistei”
(Roma 3:25, 28, 30). Kata depan dia menekankan bahwa iman adalah “alat” yang
olehnya kita mendapatkan Kristus dan kebenaran-Nya. Jadi, iman di sini tidak
dikatakan sebagai dasar pembenaran, karena jika demikian iman dianggap sebagai
jasa manusia.
5. Pendamaiaan
Pendamaian adalah pemulihan orang yang telah dibenarkan ke dalam
persekutuan dengan Allah. Dosa telah menjauhkan manusia dari Allah. Dosa telah
memutuskan hubungan dan telah menjadi penghalang antara manusia dengan Allah.
Seharusnya murka Allah melanda manusia karena keberdosaannya, namun di dalam
Rom 5: 10, dikatakan ketika kita menjadi seteru-Nya kita diperdamaikan kepada
Allah oleh kematian Anak-Nya. Kematian Kritus melaksanakan tindakan
pendamaian ketika kita berada dalam kondisi berseteru dengan Allah.
Kasih Allah yang dinyatakan dalam pendamaian, tidak terfokus pada saat
seseorang percaya kepada Kristus dan menemukan bahwa permusuhannya terhadap
Allah telah berubah menjadi kasih, melainkan manifestasi kasih Allah terwujud
ketika kita masih berdosa di dalam peristiwa kematian Kristus yang historis dan
objektif.[28] Hal
itu berasal dari Allah dan diberikan bukan akibat usaha manusia atau perbuatan
manusia, semata-mata karena pemberian Allah.
6. Penyucian
Kata kerja hagiazo merupakan kata turunan dari hagios,
yang sama seperti kata bahasa Ibrani qadosh yang pertama-tama
menunjukkan pengertian tentang pemisahan. kata itu dipakai untuk menunjukkan
bahwa tindakan Allah yang olehnya Ia, melalui Roh Kudus, mengerjakan
kualitas-kualitas kesucian dalam diri manusia (Yoh. 17:17; Kis. 20:32; 26:18).
Kata itu juga digunakan untuk pengertian “memisahkan dari yang biasa untuk
tujuan kudus”, atau “dikhususkan untuk suatu jabatan tertentu”, Mat 23:17; II
Tim. 2:21).
Penyucian adalah tindakan Allah dimana sikap jiwa yang kudus diperkuat,
tindakan-tindakan yang kudus makin meningkat dan dengan demikian jalan hidup
yang baru diperlihatkan. Struktur lama dari dosa dibuang dan struktur baru dari
Allah menempati kedudukan dalam diri orang tersebut.[29]Bersamaan
dengan manusia lama yang perlahan-lahan musnah, maka manusia yang baru yang
baru itu muncul. Sisi positif dari penyucian ini sering disebut “dibangkitkan
bersama-sama dengan Kristus” (Rom. 6:4,5; Kol 2:12; 3: 1-2). Hidup baru yang
mengikuti adalah sebuah hidup bagi Tuhan (Roma 6:11; Gal 2:19).
4.Tujuan
pekerjaan penyelamatan Allah
Allah menyatakan
dirinya, dalam Alkitab merupakan suatu cara Allah menyatakan kebenaran tentang
diri-Nya. Ia mengungkapkan diri-Nya dalam Alkitab bukanlah sebagai cara Allah
untuk menjawab rasa penasaran atau keingintahuan manusia akan diri-Nya,
melainkan sebagai cara untuk menggenapkan rencana-Nya yang paling utama yaitu
keselamatan. Allah bermaksud memulihkan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa
kepada hakikatnya yang semula pada saat diciptakan.[19]Dan selanjutnya Ia akan memimpin mereka
kepada pemahaman yang sempurna mengenai diri-Nya dan persekutuan yang sempurna
yang merupakan titik puncak keselamatan.
Penyataan Firman Tuhan
menuntut kepercayaan dan ketaatan terhadap apa yang dinyatakan oleh Tuhan.
Penyataan Allah kepada Abraham akan mencapai tujuannya, pertama-tama yang Tuhan
tuntut darinya adalah ketaatan kepada Firman Allah yang dinyatakan kepadanya.
Demikianlah tuntutan Allah kepada umat-Nya sepanjang sejarah Alkitab, yaitu
ketaatan kepada Firman-Nya. Namun pada kenyataan-Nya umat pilihan Allah-pun
gagal dalam mentaati perintah-Nya seutuhnya. Maka satu-satunya jalan adalah
dengan menyatakan keselamatan dalam diri Mesias, Juruselamat yang sudah
dijanjikan semenjak lama.
Karya Keselamatan Allah
melalui perantaraan “hamba-Nya,” akan merealisasikan penyelamatan
umat perjanjian-Nya. Dimana umat-Nya akan diam dengan aman di negeri yang akan
diberikan-Nya dan dimana Tuhan akan memperlihatkan keadilan-Nya. Semuanya ini
berulang-ulangkali diserukan dalam kalimat,”Aku akan menjadi Allah mereka dam
mereka akan menjadi umat-Ku.” Seruan ini terdapat beberapa kali dalam kitab
Yeremia, Yehezkiel dan Zakaria. Menurut Yeremia hal ini berarti bahwa semua
orang akan mengenal Tuhan dari yang kecil sampai yang besar (Yeremia 31:31-34).
Hosea berkata-kata tentang umat Allah sebagai istri Tuhan dalam keadilan dan
kebenaran (Hos. 2:18). Hal ini merupakan suatu perubahan yang sangat radikal
sehingga hanya dapat digambarkan sebagai kebangkitan tulang-tulang kering (Yeh.
37:4-10), pemberian hati yang baru (Yeh. 36:26), yang berarti penempatan Roh
Allah sendiri di dalam diri umat-Nya. [20]
BAB IV
PENUTUP
1. Alasan Mengapa
Manusia Istimewa di Hadapan Allah
Pertama, kita dikasihi oleh Allah. “Karena begitu besar Kasih Allah..” Alasan yang sungguh luar biasa dari pribadi Allah sendiri sehingga menempatkan manusia sebagai ‘yang istimewa’. Keistimewaan itu kita dapat bukan karena perbuatan baik kita, bukan karena harta kita, dan segala apa yang kita miliki. Tapi semua itu kita dapat hanya dengan satu alasan “KASIH”
Kedua, kita ditebus oleh Allah. Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia menjadi ‘tawanan’ iblis. Dan untuk mengembalikan posisi manusia kembali ke hakekatnya sebagai gambar Allah, Allah harus melakukan sesuatu yaitu penebusan. Allah tidak melakukan penebusan dengan menggunakan emas, perak, dll. Tapi Allah melakukan penebusan dengan diri-Nya sendiri “Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal..” Tunggal artinya satu-satunya bukan salah satunya. Ia harus datang menjadi sama seperti manusia dengan tujuan yang jelas yaitu menebus manusia dari kegelapan.
Ketiga, kita diselamatkan oleh Allah. “Tidak binasa…” dalam Yohanes 10:10 mengatakan bahwa “ Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Panggilan Allah dalam hidup kita bukan untuk binasa melainkan kehidupan. Kita diselamatkan dari kusa iblis, dari segala ikatan dosa masa lalu, dari segala kutuk karena Allah sangat memandang kita berharga dimata-Nya.
Keempat, kita diubah oleh Allah. Dahulu kita adalah hamba dosa, tetapi sekarang kita menjadi hamba kebenaran. Status kita diubahkan oleh Allah sebagai Imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.(I Ptr. 2:9) Status ini bukan bersifat sementara, tetapi bersifat kekekalan “Melainkan beroleh hidup yang kekal…”
Saudara yang terkasih, kiranya keempat prinsip diatas dapat menolong kita untuk memasuki bulan natal ini bukan sekedar sebagai pesta tahunan. Akan tetapi melalui natal ini, kita kembali diingatkan bahwa sesungguhya kita istimewa dihadapan Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan Allah kepada kita.
Pertama, kita dikasihi oleh Allah. “Karena begitu besar Kasih Allah..” Alasan yang sungguh luar biasa dari pribadi Allah sendiri sehingga menempatkan manusia sebagai ‘yang istimewa’. Keistimewaan itu kita dapat bukan karena perbuatan baik kita, bukan karena harta kita, dan segala apa yang kita miliki. Tapi semua itu kita dapat hanya dengan satu alasan “KASIH”
Kedua, kita ditebus oleh Allah. Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia menjadi ‘tawanan’ iblis. Dan untuk mengembalikan posisi manusia kembali ke hakekatnya sebagai gambar Allah, Allah harus melakukan sesuatu yaitu penebusan. Allah tidak melakukan penebusan dengan menggunakan emas, perak, dll. Tapi Allah melakukan penebusan dengan diri-Nya sendiri “Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal..” Tunggal artinya satu-satunya bukan salah satunya. Ia harus datang menjadi sama seperti manusia dengan tujuan yang jelas yaitu menebus manusia dari kegelapan.
Ketiga, kita diselamatkan oleh Allah. “Tidak binasa…” dalam Yohanes 10:10 mengatakan bahwa “ Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Panggilan Allah dalam hidup kita bukan untuk binasa melainkan kehidupan. Kita diselamatkan dari kusa iblis, dari segala ikatan dosa masa lalu, dari segala kutuk karena Allah sangat memandang kita berharga dimata-Nya.
Keempat, kita diubah oleh Allah. Dahulu kita adalah hamba dosa, tetapi sekarang kita menjadi hamba kebenaran. Status kita diubahkan oleh Allah sebagai Imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.(I Ptr. 2:9) Status ini bukan bersifat sementara, tetapi bersifat kekekalan “Melainkan beroleh hidup yang kekal…”
Saudara yang terkasih, kiranya keempat prinsip diatas dapat menolong kita untuk memasuki bulan natal ini bukan sekedar sebagai pesta tahunan. Akan tetapi melalui natal ini, kita kembali diingatkan bahwa sesungguhya kita istimewa dihadapan Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan Allah kepada kita.
2. Panggilan Manusia Sebagai Gambar dan Rupa Allah
Gambar
Allah menunjuk pada bagian non-material dari manusia. Hal ini membedakan
manusia dari binatang dan memampukan manusia menjalankan “kekuasaan”
sebagaimana direncanakan Allah (Kejadian 1:28), dan memampukan manusia
berkomunikasi dengan PenciptaNya. Keserupaan ini adalah dalam halmental, moral dan sosial.
Secara mental, manusia diciptakan sebagai makhluk yang rasional dan berkehendak – dengan kata lain, manusia dapat menggunakan pikirannya dan dapat memilih. Ini adalah refleksi dari akal budi dan kebebasan Tuhan. Setiap kali seseorang menciptakan mesin, menulis sebuah buku, melukis pemandangan, menikmati simponi, menjumlahkan hitungan, atau menamai binatang peliharaan, dia memproklamirkan fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.
Secara moral, manusia diciptakan dalam kebenaran dan kepolosan yang sempurna, suatu refleksi dari kesucian Tuhan. Tuhan melihat semua yang diciptakanNya (termasuk manusia) dan mengatakan, “sangat baik” (Kejadian 1:31). Hati nurani kita atau “kompas moral” adalah sisa dari keadaan yang asli itu. Ketika seseorang menulis hukum, mundur dari kejahatan, memuji kelakuan baik, atau merasa bersalah, orang itu meneguhkan fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.
Secara sosial, manusia diciptakan untuk bersekutu. Hal ini mencerminkan ketritunggalan Allah dan kasihNya. Di taman Eden, relasi manusia yang terutama adalah dengan Tuhan (Kejadian 3:8 menyiratkan persekutuan dengan Tuhan), dan Tuhan menciptakan perempuan pertama karena "tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Setiap kali seseorang menikah, berteman, memeluk anak kecil, mengikuti kebaktian, dia menyatakan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.
Secara mental, manusia diciptakan sebagai makhluk yang rasional dan berkehendak – dengan kata lain, manusia dapat menggunakan pikirannya dan dapat memilih. Ini adalah refleksi dari akal budi dan kebebasan Tuhan. Setiap kali seseorang menciptakan mesin, menulis sebuah buku, melukis pemandangan, menikmati simponi, menjumlahkan hitungan, atau menamai binatang peliharaan, dia memproklamirkan fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.
Secara moral, manusia diciptakan dalam kebenaran dan kepolosan yang sempurna, suatu refleksi dari kesucian Tuhan. Tuhan melihat semua yang diciptakanNya (termasuk manusia) dan mengatakan, “sangat baik” (Kejadian 1:31). Hati nurani kita atau “kompas moral” adalah sisa dari keadaan yang asli itu. Ketika seseorang menulis hukum, mundur dari kejahatan, memuji kelakuan baik, atau merasa bersalah, orang itu meneguhkan fakta bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.
Secara sosial, manusia diciptakan untuk bersekutu. Hal ini mencerminkan ketritunggalan Allah dan kasihNya. Di taman Eden, relasi manusia yang terutama adalah dengan Tuhan (Kejadian 3:8 menyiratkan persekutuan dengan Tuhan), dan Tuhan menciptakan perempuan pertama karena "tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Setiap kali seseorang menikah, berteman, memeluk anak kecil, mengikuti kebaktian, dia menyatakan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah.
Daftar Pustaka
http://www.bersamadia.com/2010/06/arti-segambar-dan-serupa-allah.html
http://mariohutahaean.blogspot.com/2012/11/makalah-mata-kuliah-pendidikan-agama.html
http://carelinks.net/doc/bbintro-id/5
http://andrewsarambu.blogspot.com/2011/04/keselamatan.html
http://andreasgpak.blogspot.com/2012/01/materi-pak-kelas-vii-semester-2.html
http://httpcharis.blogspot.com/2012/10/konsep-teologis-keselamatan-dalam.html
http://danielronda.com/index.php/artikelmateri-kuliah/86-pengajaran-tentan-manusia-dan-dosa-sebagian-materi-kuliah-teologi-sistematika.html
http://www.mezbahpetra.com/2010/12/menjadi-umat-yang-istimewa.html

15.19
Adnan Julianto


0 komentar:
Posting Komentar